Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts
jika hatiku seperti cermin
mampukah kau berkaca dari pandangan jiwaku

lalu lihatlah hingga dikedalaman hatiku
apakah kau mampu temui sebuah celah dihatiku
atau ketidakmampuan hatiku

jika hatiku tercipta dari lembaran kertas
apakah kau akan menyiraminya dengan setetes minyak
yang tentunya akan mudah terbakar

jika hatiku tercipta dari butiran kapas
sediakah kau merajutnya menjadi sehelai kain

Cobalah berkaca seperti kau bercermin dan berhadapan langsung dengan wajah yang dinamai cinta. Temukanlah ketulusan dan kerendahan hati yang menatap cinta tersebut dengan penuh arti yang mendalam, yang takkan mudah hilang seperti api yang melenyapkan keadaan menjadi ketiadaan, dan jika kau menemukan kelembutan dan kedamaian hatiku seperti halusnya kain yang terbuat dari sutera, yakinkanlah kau akan mampu merenda kehidupan bersamaku dan menutup kekuranganku dengan pakaianmu yang layak.

Sejatinya ,
hatiku juga seperti hatimu.

Dan kita masing-masingakan saling berpandangan dan berkaca untuk saling menyempurnakan.
Kucoba rebahkan tubuh bertelanjangkan duka lara,
berkehendak membangunkan mimpi yang tenggelam dalam fana,
Tapi tak ada yang berubah, Nirwana menutup pintu Auranya, namun Aku tak ingin berhenti sebelum aku benar-benar tak mampu,
Aku hanya akan menyerah ketika aku tlah sampai pada titik yang memang aku tak punya kuasa Lagi,..
Dan Aku akan pasrah untuk sebuah kemenangan
Apa kabarmu kesedihan ?
Mungkin sedang berbahagia karena masih mendapat tempat terbaik disini, kau seakan terus menarinari dalam memori seperti hentakan ribuan belati yang berkarat. Tidakkah kau bosan terus menerus bermain diruang yang telah porak poranda kini, Hati yang sudah tak mendapat tempat untuk berteduh, pun untuk singgah sebentar.

Dan entah bagaimana kini kabarnya kebahagiaan disana ?
aku sudah lama tak menemuinya, dan kuharap Ia tak bersedih melihat aku yang sekarang.

Mungkin Aku adalah orang kesekian yang bertanya bagaimana kabar bahagia, tapi masih saja bertahan duduk dan diam memandangi orang.orang yang tersenyum bahagia dan berjalan penuh riang dan tawa.

Dan aku adalah orang yang selalu datang terlambat untuk itu.

Aahk, . . sudahlah, kini aku sedang menikmati segelas kopi bersama jamuan senja yang masih tersisa kali ini, meski beberapa waktu yang lalu sebenarnya matahari telah lama tenggelam diufuk barat.

Aku hanya ingin disini untuk sementara waktu, bernostalgia dengan aroma pekat kopi hitamku dan bersimpati dengan hati yang sebenarnya masih belum patah, mungkin Aku hanya terlalu keras pada hatiku.

Aahk, . . aku tak perlu terlalu khawatir untuk itu, toh sejauh ini aku masih baikbaik saja.

Mungkin aku takkan menemukan bahagia jika aku terlalu jauh mencari dan terlalu mengurung diri diruang yang sempit.

Cukuplah aku mampu untuk meyakinkan diri ini bahwa bahagia tidaklah sejauh jarak antara bumi dan matahari.

Mungkin bahagia itu ada disini, hanya saja aku belum menjamunya dengan baik, hanya saja kini Aku mulai merasa lelah untuk menunggu.

Perlahan romantisme senandung sunyi mengalun merdu bagai kecapi,
mengiringi malam melantunkan kidungkidung asmara,
meski kadang terasa beku dan dingin menusuk relung hati.

Dikau rindu yang turun menyapa,
seperti laksamana embun yang turun dilangit malam,
menggetarkan titik-titik kebekuan dari jenuhnya malam hingga sampai ke ulu hati sang perindu.

Kau menebar rasa kerinduan yang tak biasa,
kau seperti menabur aroma luka kepada pewaris rindu seperti Dia yang kini tengah terisak mengobati luka.Kerinduan tlah menggema mengikuti hampir setiap waktunya bagai simpony elegi para pujangga dahulu.

Dia hanya seorang insan perindu,
menjadi perindu yang bertandang menemui malam sudah biasa baginya

Raut kesedihan terpancar di wajahnya dan kegundahan hati membuatnya terlihat begitu lemah dalam mencari keteguhan hati yang merantai rasa kerinduannya, dengan tegar ia mencoba kembali menguatkan pilarpilar hatinya, namun terkadang ia bertekuk lutut ketika muncul beratnya beban kerinduan itu, seakan tak kuasa ia menahan.

Seperti semu yang seakan mangabur untuk selamanya,
kini ia hanya sebentuk hati yang warnanya tak lagi sama dan seakan ia tak lagi ada diruang yang sama yang pernah ia tempati dahulu.
Begitu ia memaknai sendiri hatinya.

Pintanya hanya sederhana "Hati untuk hatiku"

Hati yang benarbenar mampu memberi penawar bagi luka
dan tak cukup hanya sebagai kiasan semata
Hati yang mampu mengubah badai menjadi damai
dan sedia menggengam hujan pada barisan pelangi

Dalam doanya suatu hari nanti langit akan membukakan pintu segala keajaiban hingga sampai pada suatu hari diujung suatu pagi yang akan datang menentramkan, memberi harapan pada tunastunas baru dan menguatkan sendi dan akar penopang semangatnya untuk bertahan.

Wahai kerinduan, Dia hanyalah seorang insan perindu...
mengapa dengan mudahnya kau meninggalkan bayanganmu dibalik kegelapan untuknya ?

Kau kerinduan yang datang seperti gairah liar yang sulit dipahami
kau kerinduan yang tak tersampaikan kepada sang pemiliknya.

Kau kerinduan yang meninggalakan tanda tanya kepada hati yang membutuhkan jawaban kemana ia akan berlabuh.

Katakan saja jika mungkin rindu ini terlalu tabu untuknya
maka ia akan berhenti untuk merindu.


Wahai Embun kesejukan yang turun dari langit
Aku telah melewati malam ini dan pekatnya

Embun, . .
Aku merindukan sapaan kelembutanmu
Selembut kau membangunkan bebungaan dan rerumputan

Dan ketika sang surya hadir bersama cakrawala pagi
Kau yang menjadi pelepas hadirnya matahari menyentuh sari
Dan bebuahan dibumi, menjadikannya tumbuh hingga ranum

Kaulah embun, yang setia bersama mentari menunggu pagi
. . . .

Wahai Embun, . .
Kau adalah sang pengelana serambi bumi
Berkelana dalam elitis sang waktu

Wahai Embun kesejukan, . .
Kau Seperti Oase yang mengalir dalam jiwa
Memberikan kedamaian hati

Meski Kau menjadi tiada setelah kesejukanmu
Namun disaat kau hadir adalah waktu bagiku
Untuk penyampaian pesan kepada langit
. . . . .

Wahai Embun dan kesahajaaan, . .
Kau telah menghadirkan mentari bersama kesejukanmu
Disaat aku membuka mata

Embun, . . .
Aku ingin menggenggam mu Sebelum kau kembali.


Image and video hosting by TinyPic
img by weheartit

Rembulan diam di peraduan nya

. . . . .

Dan Malam tetaplah malam
Dengan tabirnya sendiri
. . . . .

Suatu cerita tentang hening dan elegi
Kan tetap ada dalam kisahku

Bersama dalam ringkihan Elitis sang waktu

Kutuliskan sebait sajak
Dan menunggu pagi berlabuh dimatamu

Namun aku terlambat, . .

Hening itu terlalu sunyi merasuki pikiran
Dan terpaku Aku di keAkuan ku yang rapuh

Sajak ku pun berlabuh di padang rembulan

Maafkan aku , . .

. . . . .

Kuberharap dirimu berkenan menunggu
Hingga esok kembali menjemput

. . . . .

Karena diwajah sang rembulan itu
Telah tertulis sebuah sajak Untukmu

Kelak, suatu saat
Kuingin kau membacanya untukku, dan untukmu

Namun, jika esok aku tak disampingmu
Dan kau lelah dengan perjalanan sang waktu

Biarlah sajak itu hanya terukir pada rembulan.

Dan bila kau masih merindukan aku
Lihatlah rembulan itu saat malam mulai menjelang

Lihatlah ditiap rengkuhan malammu

Aku kan selalu ada bersama sajakku dan rembulan

. . . . .





"March Memories::TentangmU dan sang Rembulan "


02august, @ 04:11

Tak ada hidup yang berarti
saat ia datang memaksamu pergi

Ia membuatmu berjalan diatas khayalmu,
dibatas kemampuanmu.
lupa akan daratan tempat berpijakmu

Ia mengusir damai dijiwamu
membawa pergi seluruh mimpimu.

Tak ada harapan saat ia hilang
pergi meninggalkan kebingungan
dan kengerian didirimu.

Dan ia kembali tanpa kau sadari
dirimu memanggilnya untuk kematianmu.
dirimu tak pernah sanggup melawannya.
karna ia membuatmu terlelap penuh keputusasaan.



Hidup ini begitu indah dan sangat berharga. hanya sia-sia bila kita menghancurkan nya dalam waktu yang singkat.Dia bukanlah teman dari masalah, tapi musuh yang berlagak seperti teman.

"Stay Away From Drugs"
Kuingin kau begitu
Kau tak ingin ku begini
kuingin kau tau
Kau tak mau tau

Kuberikan kau itu
Kau tak mau
Ku berikan kau ini
Kau tak peduli

Ku ingin kau merasa
Kau tak berkata
Ku ingin kau terima
Kau tak percaya

Ku ingin kau tertawa
Kau tak ingin bercanda
Ku ingin kau bersuara
Kau tak menyapa



Ada Apa Dengan mauMu dan mauKu....?!!!!!!!
Lirih bersenandung nayanyian jiwa
syahdu terdengar menyayat hati
lelah terpejam sepinya jiwa
syair indah penawar sunyi

Ia bernyanyi memanggil hati yang penat
saat semua mata tertutup debu
ia datang ketengah badai dengan hangat
saat tubuh tlah dingin membeku

Bersahutan suara lirih menyapa
pertanda alam telah memanggil
bagi hidup yang dirundung duka
petaruh bagi jiwa yang kerdil

Letih tak jua ada sahutan
bosan sudah anak gembala
leraian tak jua jadi harapan
bingung sudah mencari arah

Lelah tak bertahan hati yang tlah pupus
untuk jiwa yang tak terbangun
layu diterpa angin berhembus
urung sudah niat membangun

Popular Posts

TOP Comments

Followers

Total Pageviews

FanPage